PEMIMPIN ITU DARI UII
(My Personal Experience)
Hari itu Senin, 18 Januari 2010, Aku dan temanku, sebut saja Mas Tubagus (teman akrabku sejak Aku masih di Aliyah) pergi ke kampus kami Universitas Islam Indonesia (UII). Saat itu masih dalam suasana semesteran kampus dan di hari itu bertepatan dengan ujian mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum (PIH) yang diampu oleh Drs. Dr. Dadan Muttaqien, SH. M Hum. Karena jadwalnya setengah satu siang (ba’da Dhuhur) maka sekitar jam 11.30 Aku dan Bagus sudah bergegas pergi ke Kampus. Hal ini agar nanti bisa solat di Kampus dan dengan harapan supaya tidak ketinggalan alias tepat waktu (on time) masuk kelas. Maksud hati memeluk gunung namun apa daya tangan tak sampai, maksud kami ingin masuk kelas tepat waktu namun apa daya musibah menimpa kami berdua siang itu.
Ketika sampai pada kilometer 14 jalan Kaliurang, sudah dekat kampusku, tiba-tiba ban belakang motor yang kami kendarai bocor. Dengan menimbulkan buyi aneh terlebih dahulu. Semula Aku tak menyangka kalau bunyi itu ditimbulkan oleh motor Supra X 125 cc yang kami kendarai. Tidak jauh dari situ motor terasa berat dan serasa ada sesuatu yang mengganjal, ya karena ban sudah bocor dan anginnya pun sudah habis. Tentu kami pun tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terpaksa harus istirahat menunggu selesai ban motor ditambal karena dekat lokasi itu terdapat bengkel tambal ban. Kondisi tubuhku ketika itu sebenarnya sudah tidak fit, Daku merasa sedikit using dan bawaannya ngntuk meskipun paginya Aku sempat tidur di Pondok, he..
Bukan ini sebenarnya yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. Aku hanya ingin sedikit berbagi mengenai nasihat sekaligus pengetahuan yang Aku dapatkan ketika kejadian itu. Saat Aku menyebrang menuju bengkel ban yang berada di Timur jalan di sana sudah ada bapak yang sedang memompakan ban mobilnya. Bapak tadi tidak menyempatkan duduk sejenak pada banku yang disediakan pemilik bengkel bagi pelanggan (pemilik kendaraan). Dia hanya berdiri saja menunggu ban mobilnya dipompa. Karena capek dan ngantuk akupun langsung duduk di bangku itu yang posisinya tidak jauh dari Pak tua tadi berdiri. Terkesan kurang sopan memang. Tapi rasa ngantuk yang menimpaku membuatku tidak berfikir dua kali untuk duduk dibagku yang kira-kira bisa diduduli 3 orang itu. Tak ku sangka, tiba-tiba bapak yang mengaku sudah pensiun 30 tahuna itu menanyaiku, “kuliah dimana Dik?” tanyanya. Aku pun menjawab bahwa Aku kuliah di UII yang letaknya tak jauh dari lokasi itu (Kampus UII berada di KM 14,5). Mendengar jawabanku Bapak yang tidak sempat mengenalkan namanya padaku tersentak dan langsung merespon jawabanku, “Oh, bagus, bagus”, tuturnya.
Dalam kengantukanku yang tak tertahankan Akupun menjadi tertarik dan terhanyut dengan perbincangan singkat itu dan rasa ngantuk yang menyerangku hilang. Dalam hatiku sempat terlintas pertanyaan mengapa bapak tadi menyatakan eksprasi senang ketika aku menyebut UII. Apakah image UII sebagai salah satu Universitas Islam swasta menyimpan kesan baik pada kalangan tertentu atau ada alasan lainnya. Meskipun Aku pribadi merasa sangat bangga bisa melanjutkan pengembaraan di Universitas ini. Sebelum Aku sempat menanyakan alasan bapak tadi mengatakan UII itu bagus, beliau sudah menambahi pernyataannya, “Pemimpin bangsa ini seharusnya lahir dari Universitas sekelas UII, setidaknya kalau pemimpin itu dari UII (Universitas yang punya basic keislaman) jika akan memulai sesuatu terlebih dahulu membaca Basmalah.” Tukasnya. Akupun jadi tertegun dengan setatemen itu dan hanya menundukan kepala pertanda setuju dengan alasan logis yang diutarakan bapak tadi. “Bangsa ini sudah terlanjur bobrok, lembaga yang diberi amanat untuk menyelesaikan kasus korup di Indonesia justru malah terlibat korupsi di intern lembaganya” tambahnya.
Menarik memang, bapak yang mengaku sudah berumur 76 tahun itu ternyata memiliki daya kritis yang pedas terhadap kehidupan berbangsa di Indonesia. Hal ini karena memang seperti itu realitanya, lembaga peradilan di Indonesia sudah tidak memiliki kesan baik dan wibawa di mata masyarakat. Anggota DPR sebagai penyalur aspirasi rakyat yang seharusnya memberikan tauladan yang baik bagi bangsa justru melakukan tindakan yang menodai citranya sebagai wakil rakyat di parlemen. Kejujuran yang mesti dikedepankan dalam segala bidang dinafikan begitu saja tanpa ada rasa bersalah. Padahal kejujuran itu akan membawa pelakunya kepada kebaikan dan kebaikan itui akan menuntnya menuju keabadian di surga Allah SWT. Namun dalam kondisi yang tertentu manusia tidak memikirkan lagi dampak fatal dari kebohongan yang ia lakukan. Padahal sekali berbohong itu akan menyebabkan bohong yang kedua kali demi menutupi kebohongan yang pertama dan seterusnya. Sehingga ia menjadi makhluk yang paling banyak berohong (kadzdzab). Na’udzubillahiu min dzalik...
UII sebagai Universitas yang komit akan keagamaan sekaligus unggul di bidang intelektual dan teknologi diharapkan bisa mencreate pemimpin bangsa yang memiliki kredibelitas tinggi. Mampu mencetak kader pemimpin umat yang memunyai potensi yang seimbang antara intelektual dan spiritual. Sanggup menyiapkan generasi yang mampu menghadapi dan merespon perkembangan zaman yang semakin radikal dan liberal. Berhasil meluluskan sarjana yang mumpuni dan siap terjun di masyarakat. Demikian kira-kira harapan bangsa terhadap Universitas di Indonesia khususnya UII, termasul bapak tadi. Hal ini karena sudah menjadi keniscayaan bahwa sebuah Universitas dianggap berhasil jika mampu menelurkan lulusan yang berdaya saing yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah (jargon UII). Amin ya Robbal ‘alamin....
Jogjakarta, 21 January 2010
Samsul Zakaria
Blog ini adalah media penulis untuk berbagi informasi, pengetahuan dan sharing. Penulis tertarik dengan dunia tulis menulis sehingga untuk merealiasikan itu penulis memilih untuk aktif dalam dunia maya dengan membuat web pribadi ini. Semoga para pembaca dapat memberikan komentar yang konstruktif dari postingan-postingan yang ada demi perbaikan pada penulisan-penulisan selanjutnya. Thank's
Kamis, 21 Januari 2010
Jumat, 15 Januari 2010
Al Ghouts..., Al Ghouts...,
Written by: Samsul Zakaria
Bagi sebagian orang mungkin judul tulisan ini cukup aneh dan menimbulkan rasa penasaran dalam hati. Sekilas dapat kita tanggap bahwa kata al-ghouts itu merupakan salah satu dari deretan kosakata bahasa Arab yang tercecer dalam kamus or inseklopedia. Sebenarnya tidak ada yang menarik dari kata ini jika kita rujuk pada makna yang sebenarnya. Secara bahasa kata ini merupakan bentuk masdar dari ghotsa – yaghutsu, yang berarti menolong dan ghouts artinya pertolongan, seperti itulah kira-kira. Namun akan menjadi sesuatu interested manakala dipakai untuk makna majaz atau maksud tertentu. Inilah salah satu keistimewaan bahasa arab yang tidak hanya memiliki makna hakiki yang dapat difahami secara langsung (directly understanding) tetapi juga menimbulkan dan memunyai multitafsir yang komplek dan variabel.
Sebenarnya kata ini adalah salah satu dari petikan kata hizb yang dibacakan untukku ketika saat itu aku sedang dalam kondisi yang tidak sewajarnya (sakau). Mengapa aku katakan demikian karena kala itu aku sudah tidak makan sekitar dua hari tapi masih bisa berontak ketika dipegang oleh sekitar 15 orang. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menjadi seperti itu. Aku hanya berfikiran negatif terhadap apa yang aku hadapi dan temui saat itu. Seolah aku telah melakukan dosa dan kesalahan yang mungkin tak terampuni lagi dan seakan orang yang ada di sekitarku kan menpunishku sebagai akibat dari kesalahanku. Padahal setelah aku kembali pada kesadaranku yang sempurna aku sadar bahwa itu semua hanya suudhon dan halusinasi belaka. Ironis memang kondisi yang kualami saat itu.
Saat itu, malam Sabtu, Aku dipaksa untuk pergi ke masjid karena sebelumnya aku hanya mendekam di kamar doank. Aku pun sempat berontak dan menolak untuk menuju masjid karena perasanku saat itu yang mungkin sudah dipengaruhi oleh makhluk halus. Dan akhirnya aku pun dipaksa pergi menuju masjid. Di masjid sudah berkumpul anak-anak pondok dan para ustadz. Aku pun diseka oleh Ustadz Roihan dengan air yang dituangkan dalam baskom yang sudah dicampur dengan kembang. Kemudian setelah itu aku pun dibacakan hizb yang kurang lebih bunyinya, “al-ghouts, al-ghouts, aghitsna minannar”. Itulah sepengingatanku ketika itu. Dan aku pun merasa ada bisikan agar aku tetap tenang karena banyak temannya andaikata akupun harus mati meninggalkan dunia. Na'udhubillhi min dzalik,,,
Ruqyah (bacaan tertentu yang dibaca berjamaah) yang dijalankan di pondok tidak juga bisa menyembuhkanku dan tidak sanggup mengusir makhluk halus yang ada pada diriku. Aku pun dibawa ke Semarang (tempat Pak Munggeng) bersama orang tuaku yang kala itu sudah datang ke Jogja. Sekitar 2 hari di Semarang (perobatan oleh seorang tabib) tak juga membuiatku sadar. Akhirnya aku dibawa ke Banyuwangi, desa tempat tinggal Mbahku dan saudara-saudaraku dari ayah. Di sana aku diobati oleh seorang kiayi yang bernama Abdul Halim. Sekitar kurang lebih dua bulan aku berada di sana sedikit membuatku sadar dan akupun mau makan nasi karena sebelumnya sekitar 12 hari nggak makan nasi, hanya minum juga itu kalau pas haus. Tapi, perasaanku ketika itu belum juga pulih seratus persen, masih ada bayang-bayang dan bisikan-bisikan halus yang menghantui diriku.
Aku dan orang tua ku serta 2 adikku akhirnya pulang ke Lampung Barat, kota kelahiranku. Sesampai di rumah akupun masih juga belum sadar dan aku merasa takut dengan orang-orang yang sudah berkumpul ramai di rumahku. Aku yakin meraka telah ngumpul demi menanti kedatanganku untuk mengetahui kondisiku dan tentu untuk menjenguk orang sakit ('iyadatul maridh). Perasaanku ketika itu mata-mata mereka itu tampak merah dan seolah menampakkan ekspresi emosi padaku. Padahal ketika itu semua orang yang ada di rumahku meneteskan air mata. Akupun menangis entah kenapa, mungkin terharu namun dalam durasi yang tidak lebih dari 5 menit. Dan akupun langsung makan di dapur di saat rumahku sesak orang yang berjejalan yang memenuhi rumahku.
Sekitar 10 hari aku berada di rumah, tidak ada perubahan juga. Aku mesti dipaksa dulu untuk menemui orang-orang yang datang mengunjungiku. Hal itu karena ada perasaan bersalah yang berlebihan ditambah denagan rasa malu. Akupun diajak oleh orang tuaku untuk berziaroh ke makam kakek dan buyut (bapak dan ibu dari nenekku). Setelah berziaroh, akupun singgah di rumah budeku (bibi) yang tidak jauh dari tempat persemayaman leluhurku. Dan ketika memasuki rumah budeku aku merasa plong dan terasa bebas dari halusinasi yang selama ini membayang-bayangiku. Perasaan bersalah yang selama ini selalu mengitariku pun lenyap dan yang ada hanya rasa senang dan gembira karena aku telah sadar kembali. Alhamdulillah,,,
Aku juga sempat dibawa ke kediaman Abah Syafe'i di Pasir Sakti, Lampung Timur untuk berobat. Meskipun Aku telah pulih dan sadar, tetap saja hal ini dijalani untuk memastikan dan melindungi tubuhku dari pengaruh ghaib itu. Setelah dipastikan bebas dari pengaruh itu Aku dan keluargaku pulang ke Lampung Barat. Aku sudah menjalani hidup dengan apa adanya walaupun masih ada rasa malu dan shock serta jera. Tapi setidaknya Aku sudah sering keluar untuk sekadar bermain Volly dan pergi ke tempat-tempat tertentu.
Tidak lama kemudian Akupun berkat dorongan dari Mas Mustofa (seniorku sekaligus pembimbing dan beliau adalah dosen di STAIN Metro, Lampung) pulang lagi ke Jogjakarta untuk meneruskan studiku. Dan ketika aku sampai di pondok, teman-temanku kagum melihat tubuhku yang tampak gemuk. Hal ini mungkin karena setelah sakit aku banyak menkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dengan jumlah yang besar. Anehnya mereka banyak yang memanggilku dengan sebutan “Al-Ghouts,..” Dan akhirnya nama itu menjadi gelar populerku di pondok, he.. he.. Hanya demi mendapatkan gelar ghouts saja membutuhkan uang yang berjuta-juta...
Jogjakarta, 16 Januari 2010
ttd
Samsul Zakaria
NM. 09421021
Renunganku pada Almamerku (MAN 1 Bandar Lampung)
Sweet Story
in MAN 1 (Model) Bandar Lampung
in MAN 1 (Model) Bandar Lampung
MAN 1 (Model) Bandar Lampung adalah madrasah yang terletak di Jalan Letkol Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung. Letaknya lumayan strategis plus terjangkau walaupun muncul asumsi bahwa sekolah-sekolah yang ada di Sukarame itu mewah alias mepet sawah, he.. Hal ini memang karena areal ini banyak dimanfaatkan untuk ladang persawahan. Tapi bagiku di sinilah letak keistimewaan sekaligus keunikan sukarame sebagai lokasi tujuanku meneruskan sekolah di tingkat atas.
Ketika aku tinggal disana untuk kurun waktu kurang lebih 3 tahun, daku tinggal di Boarding School of MAN 1 Bandar Lampung dan otomatis aku pun take jurusan agama. Selain sudah menjadi pilihanku juga karena mulai letinganku (read, angkatanku) siswa yang tinggal di asrama wajib memilih jurusan IAI (Ilmu Agama Islam) yang sepertinya saat ini sudah changed menjadi RMBI. Aku juga bingung kenapa mesti diubah seperti yang tampak saat ini. Coz, biasanya berubahnya nama tidak mustahil diilhami oleh maksud tertentu bahkan ironisnya berimplikasi pada perubahan sistem yang ada di dalamnya yang justru tidak semujarap sistem sebelumnya. Padahal sudah terbukti bagus dan mampu menelurkan graduaters yang unggul dengan sistem yang telah berjalan selama ini. Namun jika terobohan baru ini menjanjikan dan mampu merenovasi sistem yang ada menjadi lebih baik maka aku yakin langkah ini akan diamini oleh semua jebolan MAK termasuk diriku. Dan semoga demikian adanya,,
Tadi pagi ada seorang santriwati yang sempat cerita kepadaku mengenai kondisi Boarding School saat ini. Terlepas dari subjektivitas penilaian yang ia lakukan, sedikit banyak aku bisa menangkap dan mengetahui gambaran kondisi almamaterku saat ini. Dia bertutur bahwa asrama saat ini tak ubahnya hanya seperti kos-kosan yang tidak lagi terkandung di dalamnya ruhul ta'allum yang tinggi. Demikian kira-kira penuturannya padaku. Aku juga tidak mengetahui langsung kenapa hal itu bisa terjadi, mengingat kondisi asrama ketika aku masih nyantri as far as good, ya andaikata ada perubahan dari tahun-tahun seblumnya aku kira ini dapat ditolerir. Mendengar curhatan dari Ukhty tadi sedikit membuat hatiku sedih karena almaterku yang selama ini terkenal baik dan mampu menghantarku hingga aku bisa meneruskan kuliah di perguruan tinggi harus berubah dari kondisi semula membuatku tergelitik untuk menulis curhatanku di laman ini.
Sebagai alumni termuda, aku dan temen-temen tentunya berharap agar Asrama yang kala itu menjadi kawah condrodimuko untuk menggoreskan tinta sejarah dalam eposide hidup kami tetap menjadi sebuah almamater yang unggul dan terpercaya untuk mengemban amanat sebagai pencetak kader-kader pemimpin umat. Perubahan nama saat ini harus dijadikan motifasi untuk merangsang perkembangan mutu asrama itu sendiri. Bukan malah mencoreng nama baik instansi karena ketidakmampuan meongoptimalkan semua sarana yang telah terpenuhi dan memadai. Aku hanya bisa memohon kehadirat ilahi robby, jadikanlah almaterku sebagai sebuah lembaga yang membuat bangga para lulusannya lantaran keunggulan dan prestasi yang ditorehkannnya. Semoga niat baik para orangtua murid untuk meyekolahkan putra-putrinya demi sebuah obsesi agar mereka menjadi insan yang kamil dan berdaya guna terwujukan. Amien ya robbal 'alamin,,,
Ketika aku tinggal disana untuk kurun waktu kurang lebih 3 tahun, daku tinggal di Boarding School of MAN 1 Bandar Lampung dan otomatis aku pun take jurusan agama. Selain sudah menjadi pilihanku juga karena mulai letinganku (read, angkatanku) siswa yang tinggal di asrama wajib memilih jurusan IAI (Ilmu Agama Islam) yang sepertinya saat ini sudah changed menjadi RMBI. Aku juga bingung kenapa mesti diubah seperti yang tampak saat ini. Coz, biasanya berubahnya nama tidak mustahil diilhami oleh maksud tertentu bahkan ironisnya berimplikasi pada perubahan sistem yang ada di dalamnya yang justru tidak semujarap sistem sebelumnya. Padahal sudah terbukti bagus dan mampu menelurkan graduaters yang unggul dengan sistem yang telah berjalan selama ini. Namun jika terobohan baru ini menjanjikan dan mampu merenovasi sistem yang ada menjadi lebih baik maka aku yakin langkah ini akan diamini oleh semua jebolan MAK termasuk diriku. Dan semoga demikian adanya,,
Tadi pagi ada seorang santriwati yang sempat cerita kepadaku mengenai kondisi Boarding School saat ini. Terlepas dari subjektivitas penilaian yang ia lakukan, sedikit banyak aku bisa menangkap dan mengetahui gambaran kondisi almamaterku saat ini. Dia bertutur bahwa asrama saat ini tak ubahnya hanya seperti kos-kosan yang tidak lagi terkandung di dalamnya ruhul ta'allum yang tinggi. Demikian kira-kira penuturannya padaku. Aku juga tidak mengetahui langsung kenapa hal itu bisa terjadi, mengingat kondisi asrama ketika aku masih nyantri as far as good, ya andaikata ada perubahan dari tahun-tahun seblumnya aku kira ini dapat ditolerir. Mendengar curhatan dari Ukhty tadi sedikit membuat hatiku sedih karena almaterku yang selama ini terkenal baik dan mampu menghantarku hingga aku bisa meneruskan kuliah di perguruan tinggi harus berubah dari kondisi semula membuatku tergelitik untuk menulis curhatanku di laman ini.
Sebagai alumni termuda, aku dan temen-temen tentunya berharap agar Asrama yang kala itu menjadi kawah condrodimuko untuk menggoreskan tinta sejarah dalam eposide hidup kami tetap menjadi sebuah almamater yang unggul dan terpercaya untuk mengemban amanat sebagai pencetak kader-kader pemimpin umat. Perubahan nama saat ini harus dijadikan motifasi untuk merangsang perkembangan mutu asrama itu sendiri. Bukan malah mencoreng nama baik instansi karena ketidakmampuan meongoptimalkan semua sarana yang telah terpenuhi dan memadai. Aku hanya bisa memohon kehadirat ilahi robby, jadikanlah almaterku sebagai sebuah lembaga yang membuat bangga para lulusannya lantaran keunggulan dan prestasi yang ditorehkannnya. Semoga niat baik para orangtua murid untuk meyekolahkan putra-putrinya demi sebuah obsesi agar mereka menjadi insan yang kamil dan berdaya guna terwujukan. Amien ya robbal 'alamin,,,
Jogjakarta, 15 Januari 2010,
Zakaria, Graduater of MAN 1 Bandar Lampung.
Langganan:
Postingan (Atom)