Universitas Kehidupan (UK) yang Lebih Berperan Menentukan Kesuksesan
Sebenarnya sudah lama Aku ingin menuliskan ideaku mengenai hipotesis ini. Dan alhamdulillah sekarang terelisasi juga. Suatu waktu, Aku dan teman-teman menerima materi public speaking di Pondok yang diampu oleh Pak Imam Mudjiono. Di akhir pembicaraannya, beliau sempat berpesan dengan mengatakan kata bijak yaitu, "ketahuilah bahwa sesungguhnya Anda sedang menimba ilmu di 2 universitas, pertama di kampus yang sekarang Anda tempuh dan di Universitas Kehidupan." ungkapnya. Aku jadi tertarik dengan pernyataan itu, baru kali pertama Aku mendengar istilah Universitas Kehidupan. "Universitas Kehidupan lah yang sebenarnya lebih berperan dalam menentukan karir anda ke depan." lanjutnya.
Menarik sekalli bukan. Awalnya Aku sedikit bertanya tanya, apakah betul stetemen itu. Mungkinkah Universitas Kehidupan yang tak jelas statusnya itu mampu berbuat banyak demi suksesnya seorang mahasisiwa. Pertanyaan itu lah yan terus membayangiku setelah selesai kuliah malam itu. Dan akhirnya sedikit demi sedikit dapat Aku pahami bahwa benar adanya bahwa Uniiversitas Kehidupan banyak take a part dalam menentukan masa depanku. Bagaimana tidak Kawan! (meminjam istilah Mas Yasser), berapa persenkah pengetahuan yang kita dapatkan dari kampus dibandingkan dengan apa yang kita peroleh dari Universitas Kehidupan. Di universitas kehidupan kita mendapatkan apa yang belum dan atau tidak kita dapatkan di Kampus. Bahkan apa yang kita dapatkan di Kampus juga kita dapatkan di UK atau justru prosentasinya lebih rendah.
Universitas Kehidupan adalah sebuah universitas yang terus kita tempati, kamanapun kita pergi, sampai manapun kita melangkah dan berjalan, tiada dapat kita meninggalkannya. Atau dengan kata lain UK selalu menemani kita. Kita akan selalu mendapatkan pelajaran dari kisah perjalanan yang kita lewati. Kita akan selalu dapat mengambil hikmah dari kejadian yang kita alami. Kita akan selalu dapat mengambil pesan moral dan spiritual dari setiap masalah yang kita hadapi. Dan perlu kita ketahui bahwa kita tidak akan pernah lepas dari semua itu. Pelajaran, hikmah, nasihat, pesan moral dan spiritual yang kita dapatkan akan menjadi acuan dalam mengambil tindakan selanjutnya. Dan nantinya akan menjadikan kita bijak dalam segala hal. Sehingga kita Begitulah kira-kira Aktivitas di Universitas Kehidupan.
Dalam bergaul misalnya, kita dituntut untuk saling memahami, saling menyadari kekurangan dan menghargai perbedaan. Bagaimana kita harus bersikap dan berpelilaku akan kita dapatkan dalam materi kuliah Pergaulan. Dalam diskusi yang tak jarang kita lakukan dengan teman sekamar, dengan teman se-kampus di luar Universitas, mengajari kita bagaimana kita bisa menghargai pendapat orang lain, mendidik mental kita saat pendapat kita jauh dari kebenaran dan melatih kedewasan kita untuk bisa menerima argumen kawan dengan lapang dada jika ternyata benar adanya. Jadi kedewasaan akan kita dapatkan dalam materi kuliah yang dinamakan Diskusi antar kawan. Dan begitulah seterusnya. Jadi dapat kita simpulkan bahwa UK memang banyak ambil bagian dalam membentuk kepribadian insan, khususnya mahasiswa.
Dah dulu ya, law ada yan perlu didiskusikan, saya persilahkan untuk komen-komen. Aku mau maen bola dulu. Salam manis dariku! Bye bye, Met mambaca!
Blog ini adalah media penulis untuk berbagi informasi, pengetahuan dan sharing. Penulis tertarik dengan dunia tulis menulis sehingga untuk merealiasikan itu penulis memilih untuk aktif dalam dunia maya dengan membuat web pribadi ini. Semoga para pembaca dapat memberikan komentar yang konstruktif dari postingan-postingan yang ada demi perbaikan pada penulisan-penulisan selanjutnya. Thank's
Selasa, 02 Februari 2010
Senin, 01 Februari 2010
حقيقة الجهاد
HAKIKAT JIHAD: BERJUANG MELAWAN KETERPURUKAN
لاَّ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُـلاًّ وَعَدَ اللّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيما. (أالنساء: 95)
“Tidaklah sama antara orang yang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut perang tanpa halangan). Kepada masing-masing Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar”. (QS. an-Nisa’ [4]: 95)
Belakangan ini nampaknya ajakan (seruan/da’wah) untuk berjihad di jalan Allah sangat gempar dan marak sekali. Hal ini seiring dengan maraknya kasus penistaan islam oleh non-muslim dan kasus kriminalitas plus kemaksiatan yang tiada hentinya. Ada kelompok yang memang menyerukan itu (da’wah) dengan tujuan yang murni demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Di sisi lain ajakan ini tidak lebih hanya karena kepentingan politik yang hampa akan ruh agama di dalamnya. Atau adanya pemahaman yang sempit (ekstrim) terhadap konsep jihad yang diajarkan oleh Islam itu sendirinya. Sehingga wajar jika kemudian jika bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok tertentu dinilai sebagai tindakan yang menodai agama (melanggar HAM) dan menimbulkan kontroversi yang hangat dibicarakan. Padahal mereka melakukan itu dengan niat berjihad demi tegaknya kalimatullah (agama Allah), berjuang demi memberantas kemaksiatan yang ada di muka bumi. Lalu kenapa tindakan mereka yang seolah baik ini dikecam oleh banyak kalangan bahkan oleh intern umat Islam. Ada apa dengan tindakan itu, adakah yang salah dengan konsep jihad yang mereka pahami dan adakah konsep jihad yang lebih tepat dan sesuai (shalih) dengan kondisi zaman yang kita hadapi saat ini?
Islam adalah agama yang cinta damai, rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Ajaran yang terkandung di dalamnya sesuai dengan fitrah manusia, mengajarkan kebaikan (tolong menolong) dan menolak adanya kekerasan dan permusuhan. Bahkan dengan orang-orang kafir (non-muslim) sekalipun, Islam menerapkan adanya toleransi beragama yang menghendaki adanya keselarasan dan keterkaitan dalam masalah muamalah selama dalam batasan-batasan tertentu yang tidak berkaitan dengan teologi (aqidah). Disinilah letak keterbukaan Islam yang kemudian menarik simpati orang lain (non-Muslim) untuk mempelajari ajaran-ajarannya, bahkan tak sedikit dari mereka yang kemudian memeluk agama Islam dan berjuang demi agama (Islam) yang telah dipeluknya. Hal ini karena ajaran Islam adalah agam samawi yang bersumber dari wahyu ilahi yang memiliki kebenaran mutlak. Dengan konsep ini maka suatu saat manusia pasti akan kembali pada agama yang lurus (hanif). Jadi dengan konsep toleransi beragama yang diajarkan Islam, dengan sendirinya, bak mengalirnya air, akan mempengaruhi orang lain untuk simpati dengan Islam. Bukan dengan memerangi mereka dengan serta mereka tanpa sebab yang mewajibkan adanya perang itu.
Hakikat Jihad Kontekstual
Kata jihad berasal dari kata jahada – yujahidu – mujahadatan – wa jihadan yang berati perjuangan (berjuang). Dalam Alquran kata jihad terdapat dalam 3 ayat yaitu, al-Hajj: 78, al-Furqan: 52 dan al-Mumtahanah: 1. Dalam ayat-ayat di atas terdapat perintah Allah untuk berjihad dengan sebenarnya jihad dengan harta, lisan dan jiwa. Hal itu karena manusia adalah makhluk yang telah disucikan oleh Allah dengan keutamaan dibanding umat lainnya. Begitu juga terdapat perintah untuk berjihad dengan jihad yang besar dengan tujuan untuk mencari keridhoan Allah semata, tidak karena niat lainnya. Demikianlah kira-kira pengertian jihad jika kita pahami ayat-ayat yang nberkenaan dengan jihad. Tetapi kalau kita telaah secara keseluruhan, pengertian jihad menurut Alquran tidak terbatas pada masalah perang (qital) namun lebih dari itu adalah jihad dalam semua aspek kehidupan.
Menanggapi masalah di atas dan berangkat dari pengertian jihad menurut Alquran, sudah saatnya kita membangun sebuah konsep (paradigma) jihad kontekstual yang sesuai diterapkan pada masa ini. Sehingga jihad tidak lagi difahami secara sempit sebagai bentuk pengorbanan dengan rela mati asal dalam keadaan jihad. Karena pemahaman seperti ini justru tidak sesuai dengan ajaran luhur Islam. Bukan kah tidak ada paksaan (ikroh) dalam beragama, semua manusia bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Bukan kah Islam menghendaki adanya hubungan yang saling menguntungkan antara sesama manusia tanpa memandang suku, ras dan agama. Dengan demikian maka kebaikan sosial akan tercermin dalam kehidupan masyarakat.
Berjuang dengan sekuat tenaga untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, kemaksiatan bukankah ini juga disebut jihad? Bukankah berusaha dengan penuh kesungguhan untuk memerangi kasus korupsi yang sekarang marak terjadi baik di kalangan pejabat, pengusaha, pekerja, bahkan rakyat biasa adalah jihad? Tidakkah mengerahkan segenap tenaga, memaksimalkan potensi dan kemampuan untuk menuntut ilmu, belajar dan mengajar demi melawan kobodohan adalah juga jihad? Maka jawabannya adalah iya, karena memang perjuangan seperti itu yang serasa begitu diperlukan pada saat ini. Dan sebenarnya cara seperti ini yang tepat diterapkan dalam abad ini. Sehinggan jihad tidak lagi dipandang sebagai jalan menuju surga yang ditempuh oleh individu tertentu tetapi menjadi sebuah cara yang bijak dan tepat untuk berjamaah meraih ridho ilahi dan tentunya bersama-sama menuju surga Allah. Mengenai masalah jihad Jamal al-Banna, adik bungsu Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin berkomentar dalam bukunya yang berjudul ‘al- Jihad’ sebagai berikut:
إِنَّ الْجِهَادُ فِى الْعَصْرِ الْحَاضِرِ لَيْسَ هُوَ أَنْ نَمُوْتَ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ لَكِنْ أَنْ نَحْيَ فِى سَبِيْل اللهِ.
Artinya: ”Jihad kontekstual adalah bukan mati di jalan Allah namun bagaimana kita hidup di jalan Allah” (Gamal al-Banna)
Sesuai dengan pernyataan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa hakikat jihad pada masa ini adalah bukan mati di jalan Allah melainkan bagaimana kita bisa hidup istiqomah di jalan Allah. Jihad bukan berarti teror yang kemudian disusul dengan bom bunuh diri dengan motif jihad dan mati syahid. Namun Jihad adalah bagaimana kita mengupayakan kemampuan kita semaksimal mungkin untuk menata hidup agar selalu berada pada tali agama Allah SWT, mampu memberikan manfaat kepada orang lain melalui kesungguhan yang kita lakukan. Jihad adalah suatu jalan untuk berjuang melawan kemiskinan, kebodohan, dekademsi moral dan segala bentuk kemaksiatan. Dan perlu digaris bawahi untuk mewujudkan itu semua tidak mesti dengan kekerasan yang akan mengakibatkan konflik yang berkepanjangan. Bukankah Islam mengajarkan hikmah (da’wah dengan jalan yang bijak), memberikan nasehat yang baik serta berdiskusi dengan cara yang baik pula dalam hidup ini untuk mengajak kepada kebaikan. Sehingg, jika konsep seperti ini yang dipegang teguh maka Jihad akan menjadi wahana untuk menciptakan kesalihan sosial dan keselamatan bersama.
Jihad pada masa ini sebaiknya lebih diorientasikan pada perang terhadap krisis moral bangsa. Perjuangan lebih diutamakan terhadap perbaikan mental bangsa yang selama ini melempen dan tak nampak taringnya. Dan yang paling urgen sepertinya adalah masalah korupsi yang rasanya kian hari semakin bertambah bnyak kasusnya. Korupsi sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh kalangan elit yang memiliki kesempatan, korupsi sebenarnya tidak selalu berhubungan dengan fulus (uang) tetapi lebih dalam dari itu adalah korupsi waktu, pemberian jasa, penghargaan dan lain-lain. Hal ini adalah penyebab keterpurukan dan ketertinggalan bangsa ini di mata dunia serta semakin merusak citra bangsa.
Epilog
Jihad sebagaimana kita fahami dari uraian di atas tidak terbatas pada perjuangan membela agama dengan berperang yang berimplikasi pada terbunuhnya pihak lawan (al-harb wal qital). Namun lebih jauh dari itu makna jihad adalah sebuah usaha yang keras untuk melakukan perbaikan dalam hidup ini. Memerangi kebodohan, memberantas kemiskinan, menetralisir kasus-kasus kriminal, mencegah terjadinya korupsi dan lain-lain adalah merupakan jihad juga. Karena dalam kesungguhan itu terdapat spirit jihad yang ada dalam Islam. Dengan seperti itu justru jihad akan bernilai sosial yang akan berdampak pada kebaikan umat dan kenyamanan hidup.
Oleh karena itu marilah kita kerahkan segala kemampuan diri kita untuk berjuang melawan kemalasan dan kemaksiatan yang selama ini kita lakukan. Kalau kita rajin dalam hidup ini maka banyak hal yang dapat kita lakukan dan banyak manfaat yang dapat kita sumbangkan untuk Islam. Semoga niat baik yang kita ikrarkan akan diridhoi oleh Allah dan kita berharap agar kita selalu diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah berjuang dalam Islam demi tegaknya kalimatullah. Sebab, istiqomah dalam kebaikan (jihad) itu lebih baik daripada seribu kemulian sekalipun (al-istiqomah khairun min alfi karomah). Ya muqollibal qulub, tsabbit qulubana ‘ala dinika wa ‘ala tho’atika, amin ya Allah ya Robbal ‘alamin...
Wallahu a’lamu bis shawab ...
Samsul Zakaria,
Mahasiswa Prodi Syariah dan Santri PonPes UII angkatan 2009
لاَّ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُـلاًّ وَعَدَ اللّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيما. (أالنساء: 95)
“Tidaklah sama antara orang yang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut perang tanpa halangan). Kepada masing-masing Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar”. (QS. an-Nisa’ [4]: 95)
Belakangan ini nampaknya ajakan (seruan/da’wah) untuk berjihad di jalan Allah sangat gempar dan marak sekali. Hal ini seiring dengan maraknya kasus penistaan islam oleh non-muslim dan kasus kriminalitas plus kemaksiatan yang tiada hentinya. Ada kelompok yang memang menyerukan itu (da’wah) dengan tujuan yang murni demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini. Di sisi lain ajakan ini tidak lebih hanya karena kepentingan politik yang hampa akan ruh agama di dalamnya. Atau adanya pemahaman yang sempit (ekstrim) terhadap konsep jihad yang diajarkan oleh Islam itu sendirinya. Sehingga wajar jika kemudian jika bom bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok tertentu dinilai sebagai tindakan yang menodai agama (melanggar HAM) dan menimbulkan kontroversi yang hangat dibicarakan. Padahal mereka melakukan itu dengan niat berjihad demi tegaknya kalimatullah (agama Allah), berjuang demi memberantas kemaksiatan yang ada di muka bumi. Lalu kenapa tindakan mereka yang seolah baik ini dikecam oleh banyak kalangan bahkan oleh intern umat Islam. Ada apa dengan tindakan itu, adakah yang salah dengan konsep jihad yang mereka pahami dan adakah konsep jihad yang lebih tepat dan sesuai (shalih) dengan kondisi zaman yang kita hadapi saat ini?
Islam adalah agama yang cinta damai, rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Ajaran yang terkandung di dalamnya sesuai dengan fitrah manusia, mengajarkan kebaikan (tolong menolong) dan menolak adanya kekerasan dan permusuhan. Bahkan dengan orang-orang kafir (non-muslim) sekalipun, Islam menerapkan adanya toleransi beragama yang menghendaki adanya keselarasan dan keterkaitan dalam masalah muamalah selama dalam batasan-batasan tertentu yang tidak berkaitan dengan teologi (aqidah). Disinilah letak keterbukaan Islam yang kemudian menarik simpati orang lain (non-Muslim) untuk mempelajari ajaran-ajarannya, bahkan tak sedikit dari mereka yang kemudian memeluk agama Islam dan berjuang demi agama (Islam) yang telah dipeluknya. Hal ini karena ajaran Islam adalah agam samawi yang bersumber dari wahyu ilahi yang memiliki kebenaran mutlak. Dengan konsep ini maka suatu saat manusia pasti akan kembali pada agama yang lurus (hanif). Jadi dengan konsep toleransi beragama yang diajarkan Islam, dengan sendirinya, bak mengalirnya air, akan mempengaruhi orang lain untuk simpati dengan Islam. Bukan dengan memerangi mereka dengan serta mereka tanpa sebab yang mewajibkan adanya perang itu.
Hakikat Jihad Kontekstual
Kata jihad berasal dari kata jahada – yujahidu – mujahadatan – wa jihadan yang berati perjuangan (berjuang). Dalam Alquran kata jihad terdapat dalam 3 ayat yaitu, al-Hajj: 78, al-Furqan: 52 dan al-Mumtahanah: 1. Dalam ayat-ayat di atas terdapat perintah Allah untuk berjihad dengan sebenarnya jihad dengan harta, lisan dan jiwa. Hal itu karena manusia adalah makhluk yang telah disucikan oleh Allah dengan keutamaan dibanding umat lainnya. Begitu juga terdapat perintah untuk berjihad dengan jihad yang besar dengan tujuan untuk mencari keridhoan Allah semata, tidak karena niat lainnya. Demikianlah kira-kira pengertian jihad jika kita pahami ayat-ayat yang nberkenaan dengan jihad. Tetapi kalau kita telaah secara keseluruhan, pengertian jihad menurut Alquran tidak terbatas pada masalah perang (qital) namun lebih dari itu adalah jihad dalam semua aspek kehidupan.
Menanggapi masalah di atas dan berangkat dari pengertian jihad menurut Alquran, sudah saatnya kita membangun sebuah konsep (paradigma) jihad kontekstual yang sesuai diterapkan pada masa ini. Sehingga jihad tidak lagi difahami secara sempit sebagai bentuk pengorbanan dengan rela mati asal dalam keadaan jihad. Karena pemahaman seperti ini justru tidak sesuai dengan ajaran luhur Islam. Bukan kah tidak ada paksaan (ikroh) dalam beragama, semua manusia bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya selama tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Bukan kah Islam menghendaki adanya hubungan yang saling menguntungkan antara sesama manusia tanpa memandang suku, ras dan agama. Dengan demikian maka kebaikan sosial akan tercermin dalam kehidupan masyarakat.
Berjuang dengan sekuat tenaga untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, kemaksiatan bukankah ini juga disebut jihad? Bukankah berusaha dengan penuh kesungguhan untuk memerangi kasus korupsi yang sekarang marak terjadi baik di kalangan pejabat, pengusaha, pekerja, bahkan rakyat biasa adalah jihad? Tidakkah mengerahkan segenap tenaga, memaksimalkan potensi dan kemampuan untuk menuntut ilmu, belajar dan mengajar demi melawan kobodohan adalah juga jihad? Maka jawabannya adalah iya, karena memang perjuangan seperti itu yang serasa begitu diperlukan pada saat ini. Dan sebenarnya cara seperti ini yang tepat diterapkan dalam abad ini. Sehinggan jihad tidak lagi dipandang sebagai jalan menuju surga yang ditempuh oleh individu tertentu tetapi menjadi sebuah cara yang bijak dan tepat untuk berjamaah meraih ridho ilahi dan tentunya bersama-sama menuju surga Allah. Mengenai masalah jihad Jamal al-Banna, adik bungsu Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin berkomentar dalam bukunya yang berjudul ‘al- Jihad’ sebagai berikut:
إِنَّ الْجِهَادُ فِى الْعَصْرِ الْحَاضِرِ لَيْسَ هُوَ أَنْ نَمُوْتَ فِى سَبِيْلِ اللهِ وَ لَكِنْ أَنْ نَحْيَ فِى سَبِيْل اللهِ.
Artinya: ”Jihad kontekstual adalah bukan mati di jalan Allah namun bagaimana kita hidup di jalan Allah” (Gamal al-Banna)
Sesuai dengan pernyataan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa hakikat jihad pada masa ini adalah bukan mati di jalan Allah melainkan bagaimana kita bisa hidup istiqomah di jalan Allah. Jihad bukan berarti teror yang kemudian disusul dengan bom bunuh diri dengan motif jihad dan mati syahid. Namun Jihad adalah bagaimana kita mengupayakan kemampuan kita semaksimal mungkin untuk menata hidup agar selalu berada pada tali agama Allah SWT, mampu memberikan manfaat kepada orang lain melalui kesungguhan yang kita lakukan. Jihad adalah suatu jalan untuk berjuang melawan kemiskinan, kebodohan, dekademsi moral dan segala bentuk kemaksiatan. Dan perlu digaris bawahi untuk mewujudkan itu semua tidak mesti dengan kekerasan yang akan mengakibatkan konflik yang berkepanjangan. Bukankah Islam mengajarkan hikmah (da’wah dengan jalan yang bijak), memberikan nasehat yang baik serta berdiskusi dengan cara yang baik pula dalam hidup ini untuk mengajak kepada kebaikan. Sehingg, jika konsep seperti ini yang dipegang teguh maka Jihad akan menjadi wahana untuk menciptakan kesalihan sosial dan keselamatan bersama.
Jihad pada masa ini sebaiknya lebih diorientasikan pada perang terhadap krisis moral bangsa. Perjuangan lebih diutamakan terhadap perbaikan mental bangsa yang selama ini melempen dan tak nampak taringnya. Dan yang paling urgen sepertinya adalah masalah korupsi yang rasanya kian hari semakin bertambah bnyak kasusnya. Korupsi sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh kalangan elit yang memiliki kesempatan, korupsi sebenarnya tidak selalu berhubungan dengan fulus (uang) tetapi lebih dalam dari itu adalah korupsi waktu, pemberian jasa, penghargaan dan lain-lain. Hal ini adalah penyebab keterpurukan dan ketertinggalan bangsa ini di mata dunia serta semakin merusak citra bangsa.
Epilog
Jihad sebagaimana kita fahami dari uraian di atas tidak terbatas pada perjuangan membela agama dengan berperang yang berimplikasi pada terbunuhnya pihak lawan (al-harb wal qital). Namun lebih jauh dari itu makna jihad adalah sebuah usaha yang keras untuk melakukan perbaikan dalam hidup ini. Memerangi kebodohan, memberantas kemiskinan, menetralisir kasus-kasus kriminal, mencegah terjadinya korupsi dan lain-lain adalah merupakan jihad juga. Karena dalam kesungguhan itu terdapat spirit jihad yang ada dalam Islam. Dengan seperti itu justru jihad akan bernilai sosial yang akan berdampak pada kebaikan umat dan kenyamanan hidup.
Oleh karena itu marilah kita kerahkan segala kemampuan diri kita untuk berjuang melawan kemalasan dan kemaksiatan yang selama ini kita lakukan. Kalau kita rajin dalam hidup ini maka banyak hal yang dapat kita lakukan dan banyak manfaat yang dapat kita sumbangkan untuk Islam. Semoga niat baik yang kita ikrarkan akan diridhoi oleh Allah dan kita berharap agar kita selalu diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah berjuang dalam Islam demi tegaknya kalimatullah. Sebab, istiqomah dalam kebaikan (jihad) itu lebih baik daripada seribu kemulian sekalipun (al-istiqomah khairun min alfi karomah). Ya muqollibal qulub, tsabbit qulubana ‘ala dinika wa ‘ala tho’atika, amin ya Allah ya Robbal ‘alamin...
Wallahu a’lamu bis shawab ...
Samsul Zakaria,
Mahasiswa Prodi Syariah dan Santri PonPes UII angkatan 2009
Minggu Malam yang Menegangkan (Mas Tofa was The Trouble Maker)
Ketika Aku Dikerjain
Saat itu malam Senin, setelah solat Isya Aku dan temen-temen berencana pergi ke pameran di Sekaten, Alun-Alun. Pas Aku mau berangkat, tiba-tiba handphone ku berdering. Tak ku sangka, someone yang suaranya sedikit lantang tiba-tiba menerorku. "Kamu Samsul ya, siapanya DIA? Awas jangan ganggu DIA lagi ya!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi. Akupun sentak jadi kaget, ada apa ini, adakah Aku telah berbuat kesalahan yang fatal hingga ada orang yang menerorku. Coz, as far, I think hubunganku dengan DIA baik-baik aja dan gak pernah ada someone yang resek palagi pakek neror-neor segala, kurang kerjaan! (maf Mas!).
Karena Aku mau buru-buru pergi dan males ngurusin gituan, tak matiin aja sambungan telponnya, biar masalah selesai. Aku pun kirim sms ke someone tadi, "Aku gak punya banyak waktu tuk ngurusin gituan." ucapku dalam sms itu. Ternyata dia gak terima dan mencoba untuk menghubungiku for the second time. Karena ada rasa takut juga, he.. be berapa kali Aku paksakan untuk tidak ngangkat telepon itu alias Aku reject sembari Aku kirim sms 'li marroh tsaniyyah' untuk menanyakan siapa sebenarnya dia dan apa maksudnya dengan mengatakan itu. Ia pun terus mencoba to call me dan kirim sms, "Alah pengecut! law kamu memang laki-laki angkat telponnya!" demikian cacinya dalam sms yan ia kirim. Dalam hatiku terbesit perasaan, "Wah, emangnya gua perempuan apa, sok kali bilang gitu, awas lho!"
Akhirnya Aku pun mengangkat panggilannya, "Ada apa sebenarnya, apa maksud Kamu, kamu siapnya DIA?" tanyaku. Ia pun mengatakan bahwa Ia adalah Mas nya DIA dan memintaku agar tidak mengganggu DIA lagi. Wah, tambah aneh aja pikirku, siapa sebenarnya ia, apa maunya. Selama ini Aku tidak pernah merasa mengganggu DIA dan DIA pun setahuku tidak pernah merasa terganggu. Someone itu pun tetap ngotot agar Aku tidak lagi mengganggu DIA, alasannya dia masih belajar dan butuh konsentrasi. Aneh, gak logis kali hujjahku!!! Aku saja menghubungi DIA kalaw pas pulang dan itupun law DIA smsku dulu. Tambah gundah saja batinku. Memang malam yang menegangkan sekaligus meyebalkan! heh!
Someone tadi menanyakan ke Aku, sebenarnya Aku ini siapanya DIA. Aku jawab saja law sebenarnya Aku punya hubungan dekat (dalam tanda kutip) ma DIA. Someone itu malah bilang ngajak ketemuan tuk bahas masakah ini. Ia menanyakan kapan Aku pulang. "Aku mah santai aja, pulang ke Lampung liburan semester 2 nanti" jawabnya dengan nada sedikit ngengkeng. Dia masih saja tidak terima dam lagi-lagi memaksaku untuk tidak menggnggu DIA lagi. Heh, kesal sekali Aku, ingin rasanya ketemu ma orang itu dan selesaikan masalah secara jantan. Ia bilang law DIA sering Online dari kampusnya, jad ia kira Aku sering ganggu DIA saat DIA online. Aku jawab saja bahwa yang buka FB DIA saat ini adalah Aku dan Aku sering komen-komen lewat Wall nya. Ketika itu juga ia ketawa terbahak-bahak dan bilang, "Kamu ketahuan, ternyata selama ini kamu yang coba mengintrogasiku, he he..".
Astagfitullah, ternyata ia adalah masku. Bajigur!!!!. Memang selama ini Kami sering olok-olokkan masalah cewek. Dia iseng ngerjain Aku karena sebelumnya Aku kirim sms yang sedikit menyinggung perasaannya kali, (May be lho Mas?). Agaknya dia Take revenge nich ma Aku. Mas, Mas, ulahmu sempat membuat jantungku nyaris cocot. Aku sangka sampean laki-laki yang dulu pernah jadi kekasihmya. Aku kira sampean teroris setelah Nordin M Top, yang tidak lagi kau kafir sasarannya tapi para pencari cinta mangsanya. Heh, dasar!
Met membaca!
Saat itu malam Senin, setelah solat Isya Aku dan temen-temen berencana pergi ke pameran di Sekaten, Alun-Alun. Pas Aku mau berangkat, tiba-tiba handphone ku berdering. Tak ku sangka, someone yang suaranya sedikit lantang tiba-tiba menerorku. "Kamu Samsul ya, siapanya DIA? Awas jangan ganggu DIA lagi ya!" ucapnya dengan nada sedikit meninggi. Akupun sentak jadi kaget, ada apa ini, adakah Aku telah berbuat kesalahan yang fatal hingga ada orang yang menerorku. Coz, as far, I think hubunganku dengan DIA baik-baik aja dan gak pernah ada someone yang resek palagi pakek neror-neor segala, kurang kerjaan! (maf Mas!).
Karena Aku mau buru-buru pergi dan males ngurusin gituan, tak matiin aja sambungan telponnya, biar masalah selesai. Aku pun kirim sms ke someone tadi, "Aku gak punya banyak waktu tuk ngurusin gituan." ucapku dalam sms itu. Ternyata dia gak terima dan mencoba untuk menghubungiku for the second time. Karena ada rasa takut juga, he.. be berapa kali Aku paksakan untuk tidak ngangkat telepon itu alias Aku reject sembari Aku kirim sms 'li marroh tsaniyyah' untuk menanyakan siapa sebenarnya dia dan apa maksudnya dengan mengatakan itu. Ia pun terus mencoba to call me dan kirim sms, "Alah pengecut! law kamu memang laki-laki angkat telponnya!" demikian cacinya dalam sms yan ia kirim. Dalam hatiku terbesit perasaan, "Wah, emangnya gua perempuan apa, sok kali bilang gitu, awas lho!"
Akhirnya Aku pun mengangkat panggilannya, "Ada apa sebenarnya, apa maksud Kamu, kamu siapnya DIA?" tanyaku. Ia pun mengatakan bahwa Ia adalah Mas nya DIA dan memintaku agar tidak mengganggu DIA lagi. Wah, tambah aneh aja pikirku, siapa sebenarnya ia, apa maunya. Selama ini Aku tidak pernah merasa mengganggu DIA dan DIA pun setahuku tidak pernah merasa terganggu. Someone itu pun tetap ngotot agar Aku tidak lagi mengganggu DIA, alasannya dia masih belajar dan butuh konsentrasi. Aneh, gak logis kali hujjahku!!! Aku saja menghubungi DIA kalaw pas pulang dan itupun law DIA smsku dulu. Tambah gundah saja batinku. Memang malam yang menegangkan sekaligus meyebalkan! heh!
Someone tadi menanyakan ke Aku, sebenarnya Aku ini siapanya DIA. Aku jawab saja law sebenarnya Aku punya hubungan dekat (dalam tanda kutip) ma DIA. Someone itu malah bilang ngajak ketemuan tuk bahas masakah ini. Ia menanyakan kapan Aku pulang. "Aku mah santai aja, pulang ke Lampung liburan semester 2 nanti" jawabnya dengan nada sedikit ngengkeng. Dia masih saja tidak terima dam lagi-lagi memaksaku untuk tidak menggnggu DIA lagi. Heh, kesal sekali Aku, ingin rasanya ketemu ma orang itu dan selesaikan masalah secara jantan. Ia bilang law DIA sering Online dari kampusnya, jad ia kira Aku sering ganggu DIA saat DIA online. Aku jawab saja bahwa yang buka FB DIA saat ini adalah Aku dan Aku sering komen-komen lewat Wall nya. Ketika itu juga ia ketawa terbahak-bahak dan bilang, "Kamu ketahuan, ternyata selama ini kamu yang coba mengintrogasiku, he he..".
Astagfitullah, ternyata ia adalah masku. Bajigur!!!!. Memang selama ini Kami sering olok-olokkan masalah cewek. Dia iseng ngerjain Aku karena sebelumnya Aku kirim sms yang sedikit menyinggung perasaannya kali, (May be lho Mas?). Agaknya dia Take revenge nich ma Aku. Mas, Mas, ulahmu sempat membuat jantungku nyaris cocot. Aku sangka sampean laki-laki yang dulu pernah jadi kekasihmya. Aku kira sampean teroris setelah Nordin M Top, yang tidak lagi kau kafir sasarannya tapi para pencari cinta mangsanya. Heh, dasar!
Met membaca!
Langganan:
Postingan (Atom)